Natal (Sebuah pesta untuk bangkit)

24 Dec 2011

Memasuki bulan desember setiap tahunnya sama dengan membuka sebuah pintu ruangan dimana pesta sedang di selenggarakan, penuh warna, sukacita dan keceriaan.

Sebuah pesta yang dirayakan dengan penuh semangat dan sukacita yang dewasa ini ternyata bukan hanya dinanti oleh umat kristiani. Lihat aja di mall penuh dengan discount, tempat makan, supermarket dan tempat perbelanjaan lainnya memasang label Christmass Sale di tokonya. Semuanya berlomba lomba berpesta dengan caranya sendiri.

Kami (maksudnya aku dananak - anak) juga punya cara sendiri untuk berpesta. Mendapat undangan yang cukup banyak di sana sini untuk menghadiri perayaan natal yang berujung ke pemberian bantuan dari panitia yang merayakannya sebagai bakti sosial mereka di perayaan yang berbahagia ini. Bulan Desember memang merupakan bulan yang penuh semarak bagi kami sekaligus bulan ‘panen’. Di saat orang berlomba - lomba memberi maka kamilah yang diberi, di saat orang - orang berlomba mengasihani ada kami untuk dikasihani.

Kami cukup berdiri sebentar kemudian sharing menceritakan bagaimana sulitnaya hidup anak - anak ini kemudian kami semua akan banjir perhatian, mendadak anak - anak akan diberi senyuman tulus penuh kasih yang entah mengapa pada bulan - bulan sebelumya tidak pernah terlihat. Semua menjadi prihatin dan pastinya menguntungkan bagi kami. Temanku berkata ini momen yang ‘pas’ tidak setiap saat kita bisa begini.

Memang tidak ada yang salah dari semua ini, cuma sesuatu yang menggelitik dan menyita cukup banyak waktu bagiku berpikir. Benarkah kami sedang dibantu?

Memang kami memperoleh tas sekolah misalnya, sejumlah uang, ada lagi yang memberikan alat tulis buat kami tapi benarkah kami sudah terbantu?
Apalah bedanya mengemis di jalanan dengan menerima bantuan dalam balutan perayaan yang penuh dengan warna warni dimana mengaku kalau kami miskin dan berterimakasih sudah ditolong.

‘Berapa lama lagi kami harus menggantungkan diri pada pertolongan orang lain?’

Terlepas dari motivasi apa yang ada di hati mereka yang memberi bantuan kepada kami memang kami sepantasnya mengucap syukur dan berterimakasih karena kemuliaan hati yang sudah mau menolong. Tetapi bagi kami tidak berhenti hanya di ucapan terimakasih kemudian kami harus berjuang untuk melipatgandakan apa yang sudah kami terima.

‘Bisakah pesta meriah ini menjadi motivasi untuk bangkit dan berprestasi?’
‘Dan warna warni yang kini terlihat terus ada menjadi kreasi?’

Natal semula adalah peristiwa besar dimana Tuhan Yesus Kristus lahir dalam kemiskinan yang menggelikan bagi seorang Raja. Adalah perenungan bagaimana seorang yang besar dipanggil dari kaum yang dipandang hina oleh dunia.

Berharap bisa bangkit dengan anak - anak ini bersama semua orang yang dikasihani saat ini untuk menjadi pemenang yang sejati.

Berharap kita semua bisa memaknai Natal dengan lebih berhikmat bahwasanya setiap hari,setiap saat Kasih itu ada di hati kita sesungguhnya kita sedang merayakan Natal. Dan sebagaimana Tuhan telah memberi ‘hadiah’ bagi bumi seorang anak mari membe ri perhatian pada setiap anak2 kita, anak2 di sekitar kita sebab melalui tangan merekalah masa depan bumi akan diberi warna.

dan di malam sunyi senyap di kamarku saat ini dengan sepenuh hati kuucapkan

‘Selamat Natal’

buat kita semua..

Buat anak - anakku..

Buat teman - temanku..

Buat setiap hati yang penuh Kasih..

Mari bangkit menjadi pemenang, Pemenang yang penuh kasih, Kasih yang terus mau memberi!

Sebab

Indah merayakan natal saat diberi, semakin indah jika memberi..


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post